10. Kilometer Terakhir
14.24 WIB
62 km dari Banyuwangi
Suara dua silinder motor Yatra terdengar nyaring memenuhi udara.
Ia tengah melaju melewati area TN Baluran, yang berupa jalan panjang berkelok membelah hutan jati. Pepohonan besar berusia puluhan tahun berdiri kokoh seperti tak lekang oleh waktu.
Yatra menghirup nafas dalam- dalam.
Memenuhi paru- parunya dengan segar udara alami.
Inilah jalan yang pasti akan Yatra lalui saat ia akan memasuki perbatasan Banyuwangi.
Ini adalah gerbang hijau yang menyambut Yatra.
Ini adalah jalan pulang.
Inilah jalan saat ia akan masuk perbatasan Banyuwangi.
Inilah gerbang yang menyambutnya.
Inilah jalan pulang.
Pulang.
Yatra jarang pulang.
Semenjak kecelakaan itu, hubungannya dengan Bapak sudah membaik. Ia menjadi lebih sering bertelpon dengan ibu. Bapak pun juga sering berkirim pesan dengannya.
Namun karena kesibukannya sebagai leader di divisi analis, ia benar- benar jarang punya waktu pulang.
Mungkin hanya dua- tiga kali Yatra mengunjungi Bapak dan Ibu. Itupun sudah setahun yang lalu.
Sering sekali Bapak berpesan bagi Yatra untuk pulang.
Dan Yatra biasanya akan menjawab 'akan diusahakan' namun tak pernah benar- benar mewujudkan.
Hingga seminggu yang lalu.
Yatra memutuskan untuk pulang.
Ia menelepon, memberi kabar kepada Ibu dan Bapak bahwa ia akan pulang di liburan long-weekend ini.
"Beneran kamu pulang, Le?" suara Ibu terdengar meninggi antusias, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya Bu," jawab Yatra lembut.
Lalu Yatra bisa mendengar ibu berlarian, berseru kepada Bapak yang sedang berada di pekarangan belakang, mengurus ayam kampungnya. "Pak, anakmu pulang! Minggu depan Yatra pulang!"
Dan Yatra bisa mendengar betapa bahagianya Bapak di sana. "Nanti kita potong ayam ya Bu."
"Iya, nanti ibu masakin ayam goreng kesukaan Yatra," jawab Ibu. Lalu ia pun kembali bertelepon dengan Yatra.
"Bapakmu seneng banget tuh denger kamu mau pulang. Kalo bisa jangan tunda- tunda lagi ya, Le."
"Iya Bu," jawab Yatra sambil mengetik report dan sebagainya. Ia tak ingin ada tanggungan kerjaan yang akan membuatnya tak tenang saat nanti berada di Banyuwangi. "Maafkan aku jarang pulang Bu.'
"Nggak apa Le," respon ibu lembut. "Yang penting kamu bisa pulang saja, Bapak sama Ibu sudah seneng banget."
"Iya Bu."
"..."
"Terus," ujar ibu melanjutkan. "Kamu bawa pacar?"
"Bu—"
Yatra menarik nafas dalam mengingat percakapan seminggu yang lalu itu.
Dadanya terasa berat. Matanya terasa panas.
Betapa ia merasa sangat berdosa karena jarang sekali pulang.
Dan kini, setelah melewati jalur ini, ia akan memasuki perbatasan Banyuwangi.
-klik.
Yatra mengoper perseneling ke gear terakhir. Lalu membuka gas motornya.
Mempercepat laju scrambler hijau yang sudah berkendara hampir 250-an kilometer itu.
Ia sudah tak sabar ingin segera mencapai tujuan.
-----
15.33 WIB
10 km menuju rumah.
Yatra melajukan motornya agak perlahan.
Mendekati area pelabuhan Ketapang, ia harus berhati- hati. Suasana liburan membuat area ini menjadi agak padat dengan berbagai kendaraan yang hendak menuju Bali.
Bus- bus pariwisata, truk logistik dan motor- motor sepertinya.
Yatra seolah bisa merasakan antusiasme sekaligus rasa lelah mereka setelah melakukan perjalanan jauh.
Aroma asin laut begitu kuat memenuhi kepala Yatra.
Debur ombak Selat Bali riuh bersahutan dengan angin.
Dan di sebuah kelokan, berlatar birunya laut dan langit yang mulai berwarna keemasan.
Berdiri sebuah patung setinggi lima meter yang membentuk liukan indah.
Sebuah patung penari gandrung, mengenakan pakaian khas penari sambil membawa kipas besar, tersenyum kepadanya.
Bagi yang menuju Banyuwangi, ini adalah patung selamat datang.
Namun bagi yang Yatra, ini adalah patung yang menyambutnya pulang.
Seolah patung gandrung itu berdiri di pintu masuk area Banyuwangi, dan berujar:
Tinggal sedikit lagi, Yatra.
Astaga, rasanya lega sekali.
Semua rasa lelah di punggung dan lengannya seolah menguap pergi. Berganti dengan gejolak perasaan yang meluap— menyemangati manusia yang tengah melewati kilometer terakhir.
Dan kemudian, Yatra melintasi pelabuhan Ketapang.
Macet.
Truk, bus dan mobil mengantri panjang layaknya ular.
Para petugas pelabuhan dan polisi berjibaku di jalanan mengatur arus lalu lintas. Ratusan manusia menyemut, beristirahat mengisi energi mereka kembali dengan makanan kaki lima sembari menunggu giliran.
Melewati pintu ram kapal- kapal ferry.
Meninggalkan titik terujung Jawa dan menyebrang ke Pulau Bali.
Membawa sekilas Yatra kepada memori kuat masa kecilnya itu.
Dulu aku, Bapak dan Ibu pernah duduk di situ menghabiskan waktu.
Namun Yatra tak terlalu peduli.
Sedikit lagi, ia akan tiba di desanya.
62 km dari Banyuwangi
Suara dua silinder motor Yatra terdengar nyaring memenuhi udara.
Ia tengah melaju melewati area TN Baluran, yang berupa jalan panjang berkelok membelah hutan jati. Pepohonan besar berusia puluhan tahun berdiri kokoh seperti tak lekang oleh waktu.
Yatra menghirup nafas dalam- dalam.
Memenuhi paru- parunya dengan segar udara alami.
Inilah jalan yang pasti akan Yatra lalui saat ia akan memasuki perbatasan Banyuwangi.
Ini adalah gerbang hijau yang menyambut Yatra.
Ini adalah jalan pulang.
Inilah jalan saat ia akan masuk perbatasan Banyuwangi.
Inilah gerbang yang menyambutnya.
Inilah jalan pulang.
Pulang.
Yatra jarang pulang.
Semenjak kecelakaan itu, hubungannya dengan Bapak sudah membaik. Ia menjadi lebih sering bertelpon dengan ibu. Bapak pun juga sering berkirim pesan dengannya.
Namun karena kesibukannya sebagai leader di divisi analis, ia benar- benar jarang punya waktu pulang.
Mungkin hanya dua- tiga kali Yatra mengunjungi Bapak dan Ibu. Itupun sudah setahun yang lalu.
Sering sekali Bapak berpesan bagi Yatra untuk pulang.
Dan Yatra biasanya akan menjawab 'akan diusahakan' namun tak pernah benar- benar mewujudkan.
Hingga seminggu yang lalu.
Yatra memutuskan untuk pulang.
Ia menelepon, memberi kabar kepada Ibu dan Bapak bahwa ia akan pulang di liburan long-weekend ini.
"Beneran kamu pulang, Le?" suara Ibu terdengar meninggi antusias, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya Bu," jawab Yatra lembut.
Lalu Yatra bisa mendengar ibu berlarian, berseru kepada Bapak yang sedang berada di pekarangan belakang, mengurus ayam kampungnya. "Pak, anakmu pulang! Minggu depan Yatra pulang!"
Dan Yatra bisa mendengar betapa bahagianya Bapak di sana. "Nanti kita potong ayam ya Bu."
"Iya, nanti ibu masakin ayam goreng kesukaan Yatra," jawab Ibu. Lalu ia pun kembali bertelepon dengan Yatra.
"Bapakmu seneng banget tuh denger kamu mau pulang. Kalo bisa jangan tunda- tunda lagi ya, Le."
"Iya Bu," jawab Yatra sambil mengetik report dan sebagainya. Ia tak ingin ada tanggungan kerjaan yang akan membuatnya tak tenang saat nanti berada di Banyuwangi. "Maafkan aku jarang pulang Bu.'
"Nggak apa Le," respon ibu lembut. "Yang penting kamu bisa pulang saja, Bapak sama Ibu sudah seneng banget."
"Iya Bu."
"..."
"Terus," ujar ibu melanjutkan. "Kamu bawa pacar?"
"Bu—"
Yatra menarik nafas dalam mengingat percakapan seminggu yang lalu itu.
Dadanya terasa berat. Matanya terasa panas.
Betapa ia merasa sangat berdosa karena jarang sekali pulang.
Dan kini, setelah melewati jalur ini, ia akan memasuki perbatasan Banyuwangi.
-klik.
Yatra mengoper perseneling ke gear terakhir. Lalu membuka gas motornya.
Mempercepat laju scrambler hijau yang sudah berkendara hampir 250-an kilometer itu.
Ia sudah tak sabar ingin segera mencapai tujuan.
-----
15.33 WIB
10 km menuju rumah.
Yatra melajukan motornya agak perlahan.
Mendekati area pelabuhan Ketapang, ia harus berhati- hati. Suasana liburan membuat area ini menjadi agak padat dengan berbagai kendaraan yang hendak menuju Bali.
Bus- bus pariwisata, truk logistik dan motor- motor sepertinya.
Yatra seolah bisa merasakan antusiasme sekaligus rasa lelah mereka setelah melakukan perjalanan jauh.
Aroma asin laut begitu kuat memenuhi kepala Yatra.
Debur ombak Selat Bali riuh bersahutan dengan angin.
Dan di sebuah kelokan, berlatar birunya laut dan langit yang mulai berwarna keemasan.
Berdiri sebuah patung setinggi lima meter yang membentuk liukan indah.
Sebuah patung penari gandrung, mengenakan pakaian khas penari sambil membawa kipas besar, tersenyum kepadanya.
Bagi yang menuju Banyuwangi, ini adalah patung selamat datang.
Namun bagi yang Yatra, ini adalah patung yang menyambutnya pulang.
Seolah patung gandrung itu berdiri di pintu masuk area Banyuwangi, dan berujar:
Tinggal sedikit lagi, Yatra.
Astaga, rasanya lega sekali.
Semua rasa lelah di punggung dan lengannya seolah menguap pergi. Berganti dengan gejolak perasaan yang meluap— menyemangati manusia yang tengah melewati kilometer terakhir.
Dan kemudian, Yatra melintasi pelabuhan Ketapang.
Macet.
Truk, bus dan mobil mengantri panjang layaknya ular.
Para petugas pelabuhan dan polisi berjibaku di jalanan mengatur arus lalu lintas. Ratusan manusia menyemut, beristirahat mengisi energi mereka kembali dengan makanan kaki lima sembari menunggu giliran.
Melewati pintu ram kapal- kapal ferry.
Meninggalkan titik terujung Jawa dan menyebrang ke Pulau Bali.
Membawa sekilas Yatra kepada memori kuat masa kecilnya itu.
Dulu aku, Bapak dan Ibu pernah duduk di situ menghabiskan waktu.
Namun Yatra tak terlalu peduli.
Sedikit lagi, ia akan tiba di desanya.
Other Stories
Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan
Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...